
Muh Khoirul Soleh, Pembibit Buah Langka
Pilih yang Banyak Manfaat, Raup Ratusan Juta
Kontak Irul Kebonkliwon 085227632222
SM/ MH Habib Shaleh – TUMBUH BESAR : Muh Khoirul Soleh memperlihatkan buah Mamey Sapote yang mulai tumbuh besar di halaman rumahnya.

Persaingan berat dalam bisnis pembibitan dan penjualan tanaman buah tak membuat Muh Khoirul Soleh gentar. Kondisi ini justru membuat Irul, panggilan Khoirul, berinovasi dengan mengembangkan pembibitan tanaman langka.

IRUL mengembangkan tanaman- tanaman buah langka dari luar negeri, misalnya mamey sapote, sawo raksasa asal Meksiko. Buah mamey sapote berukuran besar, sekitar 1-2 kg, berkulit kasar cokelat, berbentuk bulat panjang, dan saat dibelah daging berwarna merah.
Buah ini memiliki rasa manis dan berair sehingga disukai. Karena langka, buah ini diburu orang sehingga harganya pun relatif mahal. Ada banyak jenis mamey sapote, di antaranya keywest, magana, esp, pace, akil, havana, dan lorito.
Mamey sapote ditanam Irul di sekitar pekarangan rumah. Bibit yang ia jual merupakan hasil cangkok mamey sapotedi pekarangan tersebut. Lelaki bertubuh tinggi kurus ini juga mengembangkan puluhan jenis tanaman lain, sebut saja zaitun, juwet, black sapote, jaboticaba, plum australia, pir dataran rendah, tin ficus carica, dan lainnya.
Menurut Irul, buah tin banyak juga penggemarnya. Hal ini karena buah asal Asia Barat itu memiliki banyak manfaat seperti menyembuhkan hipertensi, menurunkan kolesterol, mencegah kanker, obat sakit tenggorokan, obat jerawat, membuat badan segar, peluruh batu ginjal, memperlancar ASI, dan lainnya.
”Saya punya banyak jenis buah tin seperti green jordan, blue giant, red israel, panace, dan alma canada. Kami memang menjual tanaman langka yang tidak ada di tempat lain namun dicari orang,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Magelang tersebut.
Ide ini diawali banyaknya pelaku bisnis pembibitan tanaman di wilayah Kecamatan Salaman. Ya wilayah Salaman, Kabupaten Magelang selama ini memang terkenal sebagai sentra penjualan bibit tanaman buah dan tanaman keras.
Mulai bibit jati mas, sengon laut, jabon, kelengkeng, rambutan, mangga, sawo, durian, dan aneka buah tanaman lain, tersedia di Kecamatan Salaman. Masyarakat yang tinggal di desadesa di sepanjang pinggir jalan Magelang-Purworejo banyak menjajakan tanaman di pekarangan rumah mereka. Banyak juga pelaku bisnis skala besar di kawasan tersebut.
”Jika saya membuat dan menjual bibit tanaman seperti mereka tentu saya akan kalah bersaing. Saya memilih berinovasi dengan membuat tambulampot dan mengembangkan pembibitan tanaman langka,” kata Irul, warga Dusun Kebonliwon, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman. Lokasi kampung Kebonkliwon cukup jauh dari jalan raya.
Untuk mencapai Kebonkliwon, harus melewati jalan kampung sekitar 2 km dengan kondisi jalan aspal berkelok-kelok. Lelaki kelahiran Magelang 5 Januari 1975 tersebut mengawali karir sebagai pelaku bisnis multi level marketing (MLM), kemudian menjadi sales sepeda motor, asuransi, trading dan akhirnya fokus mengembangkan pembibitan tanaman langka.
Ia mengaku mampu mereguk ratusan juta rupiah dari penjualan aneka bibit tanaman. Disebutkan, pasar tanaman langka tidak terlalu besar mengingat harganya yang relatif mahal. Namun setiap bulan ia mampu mengirimkan tanaman langka ke berbagai daerah di Indonesia. Penghasilan terbesar Irul diperoleh dari penjualan tanaman buah dan tanaman keras. ”Bulan ini saya kirim 800 bibit durian musang king ke Batam, 70 bibit ke Manado, seribu bibit ke Karawang, dan 1.500 ke Palembang.
Sekarang saya sedang membidik pasar di Bima dan Makassar,” kata dia. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kemampuan Irul untuk belajar dari pengalaman hidup yang sulit. Ia pun belajar untuk selalu bekerja keras, tak mudah menyerah, selalu berinovasi dan mencari pembeda dibanding pelaku bisnis pembibitan tanaman yang lain.
Jika awalnya Irul menjual bibit tanaman langka seorang diri, kini ada ratusan pelaku pembibitan dan penjualan bibit tanaman di Kebonkliwon. Mereka semua menjajakan bibit melalui toko online.
Untuk mewadahi ratusan petani dan pedagang online bibit tanaman tersebut, Irul membentuk paguyuban Komunitas Bibit Buah Kebonkliwon. Komunitas ini menjadi wadah silaturahmi, edukasi dan pengembangan usaha pembibitan tanaman. ”Karena pelaku semakin banyak, mereka bersaing harga. Namun dengan adanya komunitas, masalah dan perselisihan bisa kami cegah dan kami salurkan menjadi keunggulan Kebonkliwon. Komunitas ini menjadi wadah belajar sesama anggota dan masyarakat,” kata dia.
”Dulu saya modal usaha dengan pinjam bank, namun ludes karena bibit tanaman mati terkena abu vulkanik Gunung Merapi 2010. Saya tidak menyerah dan terus berupaya keras. Saya selalu berupaya menambah koleksi bibit dan mengembangkan tanaman baru yang belum ada di Indonesia.” (MH Habib Shaleh-39)